Gubernur Jawa Timur, Pakde Karwo berjanji akan terus melakukan operasi pasar (OP) sampai harga beras turun dan kembali stabil. Hal itu disampaikan saat meninjau OP yang dilakukan Pemprov Jatim yang bekerjasama dengan Perum Bulog Divre Jatim di Pasar Soponyono Rungkut Surabaya, Kamis (5/3).
"OP ini akan terus kami laksanakan sampai harga beras kembali stabil. Khusus OP hari ini, harga beras medium dijual Rp. 7300/kg. OP khusus Surabaya telah disiapkan sebanyak 80 ton/hari.," jelasnya.
Dikatakan, harga beras medium saat ini mencapai Rp. 9200/kg dan premium Rp. 11.050/kg. Dengan dilakukannya OP di beberap pasar, diharapkan harga beras bisa turun di kisaran Rp. 7500 – Rp. 8000/ kg untuk jenis beras medium, dan Rp. 8500 – Rp. 9000/kg jenis beras premium. "Meskipun dua hari ini harga telah turun di kisaran Rp. 300 – Rp. 500/kg nya, namun, setelah dilakukan OP harga beras menjadi Rp. 8700 untuk medium dan Rp. 10.800 untuk premium ," imbuhnya.
Ia menjelaskan, kenaikan harga beras beberapa pekan terakhir disebabkan terjadinya paceklik selama desember-februari petani tidak panen. Saat paceklik pemerintah harus mensubsidi beras miskin (raskin), namun distribusi raskin dari pusat terlambat. "Keterlambatan distribusi raskin inilah yang menyebabkan kenaikan harga beras, padahal seharusnya akhir januari raskin harus sudah terdistribusi," katanya.
Jumlah penerima raskin di Jatim sendiri sebanyak 2, 857 juta Rumah Tangga Sasaran – Penerima Manfaat (RTS-PM) atau setara beras 42 ribu ton/bulan. Stok Bulog Jatim sekarang sebanyak 362.748 ton beras dan cukup untuk 8 bulan ke depan. "Mekanisme OP ini seharusnya juga dilakukan secara nasional, sedangkan untuk masyarakat miskin disubsidi dengan raskin. Dengan stok beras cukup dan raskin yang memadai, masyarakat tidak perlu khawatir akan kekurangan beras," tuturnya.
Lebih lanjut disampaikan, per akhir Maret, hasil panen di Jatim mencapai 500 ribu Ha atau setara 3,1 juta ton beras. Total hasil panen sebesar 7,8 juta ton/tahun, sedangkan kebutuhan masyarakat hanya 3,8 juta ton/tahun, sehingga ada kelebihan produksi 4,4 – 4,6 juta ton. Dengan hasil panen itu kebutuhan beras Jatim per akhir maret sangat stabil. Sehingga ketika ada kelebihan stok beras, kita bisa mengirim beras ke Papua, Kalimantan, dan wilayah lainnya. "Ketika harga beras sudah stabil jangan melakukan OP lagi, karena ini bisa menyebabkan harga gabah kering turun," tegasnya.
Menurutnya, jatim sebenarnya terkena imbas tingginya harga beras di Jakarta dan luar Jawa sehingga terjadi panic buying pada masyarakat. Bahkan di Jateng dan Jabar terjadi gagal panen, sedangkan stok beras Jatim sebenarnya masih cukup. "Khusus Jatim karena stoknya cukup tidak semua daerah mau melakukan OP. Contoh di Jombang, tidak mau melakukan OP karena sedang masa panen," ujarnya.
Untuk permasalahan pembelian gabah kering panen, Pakde Karwo menyampaikan, gabah kering panen agar tidak dijual saat musim panen karena tidak ada nilai tambah untuk petani. Rata-rata di Jatim gabah kering panen dijual seharga Rp. 5.275, meskipun harga pembelian petani (HPP) untuk tahun ini belum ditentukan. "Jadi saat musim panen, harga gabah kering panen turun, makan Bulog harus membeli dari petani untuk menstabilkan harga jual gabah kering," pungkasnya.
Sementara itu, Walikota Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, Pemkot Surabaya juga melakukan OP khususnya di wilayah-wilayah pinggiran dan tempatnya di Balai RW. Beras yang dijual ke masyarakat saat OP juga beras dari Bulog dan sampai saat ini sudah mencapai 20 ton beras. Selain itu Pemkot juga menggelar OP minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya. "Kita sudah mulai sejak dua minggu lalu, dan sengaja kita tidak melakukan OP di pasar karena saat permintaan di pasar turun maka harga akan turun dengan sendirinya," tukasnya.(red)
Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi Globalaceh.com. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.